Film Silariang dan Narasi Bugis Makassar

 

Film Silariang Cinta Yang (Tak) Direstui, adalah film tentang kisah cinta, tetapi sarat dengan pesan-pesan budaya. Dua bentuk penandaan digunakan menyampaikan pesan budaya di film ini. Pertama melalui penandaan oposisi biner, kedua melalui penandaan mitos. Dua cara ini memudahkan penonton menangkap berbagai pesan dalam film ini.

Konsep oposisi biner diperkenalkan oleh Claude Levi-Strauss (antropolog-strukturalis), dengan membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. Segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B. Dalam sistem oposisi biner, hanya ada dua tanda, keduanya memiliki makna apabila beroposisi dengan yang lain. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. Sebuah realitas menjadi bermakna karena dibandingkan dengan realitas lainnya. Beberapa contoh penanda realitas yang saling bertentangan dalam film silariang, antara lain : perkotaan-pedesaan; bangsawan-orang biasa; cinta sejati-cinta materi; tradisional-modern; kehadiran-katidakhadiran; kehidupan-kematian, dsb. Komfromi terhadap dua realitas yang berlawanan,tsb. muncul diakhir cerita dengan memunculkan penanda anomalius, dengan narasi tentang moralitas keagaamaan, akhalakul karimah, kesabaran (ininnawa sabbarakko), permaafan (penyerahan badik, pencucian kaki ibunda), dsb. Konflik akhirnya terselesaikan lewat hadirnya penanda-penanda ini.

Sementara penandaan mitos dibangun lewat narasi Silariang sendiri. Penandaan mitos menurut Roland Barthes (pemikir semiotika post-strukturalis), memercayai bahwa relasi antara penanda dan petanda, adalah tidak semata-mata bersifat arbitrer, sebagaimana pemikiran pendahulunya Ferdinand de Saussure. Penanda dan petanda memiliki hubungan bersifat historis, yang disebutnya sebagai penanda mitos. Barthes membangun dua bentuk penandaan, yang pertama adalah penanda denotasi yang mengacu pada makna tataran pertama, dan kedua adalah penanda konotasi yang mengacu pada makna tataran kedua. Makna tataran kedua, bersifat historis, mengandung mitos, dan memiliki operasi ideologi.

Makna tataran pertama “silariang” adalah sebuah bentuk perkawinan yang meninggalkan keluarga atau rumah karena tidak direstui. Bagi orang yang tak memiliki kaitan historis dengan tradisi silariang, mungkin dia hanya menerima makna tataran pertama tadi. Pemunculan penanda Silariang, sebenarnya bertugas mengungkap makna tataran kedua, tentang sejarah, nilai budaya Bugis Makassar, seperti siri na pesse (siri na pacce). Berfungsi mengungkap realitas dibalik silariang, tentang tragedi, pertumpahan darah, resiko kematian sekaligus juga rasa kemanusiaan dan kebijaksanaan. Penandaan mitos pada film ini juga berhasil membuka selubung ideologis, dalam konteks relasi kuasa antara kelas bangsawan dan pemilik modal, yang mungkin sampai hari ini terus mengalami tegangan dan pergeseran di masyarakat Bugis Makassar . (by. Ilham Paulangi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *